”Metering” memang kata dalam bahasa Inggris. Namun, dalam fotografi, kata ini sudah menjadi sebuah istilah umum, artinya mengukur cahaya yang akan mencahayai foto kita. Metering adalah dasar untuk menghasilkan foto yang bagus secara teknis. Dalam dunia digital, kesalahan metering sampai dua stop masih bisa diatasi dengan cukup mudah.
Perhatikan foto A. Metering foto ini tidaklah sederhana. Kalau Anda melakukan metering dengan apa adanya, foto yang dihasilkan akan terlalu terang. Mengapa?
Secara umum, kamera harus ”diperintah” untuk melakukan pengukuran pencahayaan oleh pemotret dalam berbagai pilihan tindakan. Pilihan tindakan itu adalah metering dengan metode matrix, center weight, dan spot. Buka buku manual kamera untuk tahu cara menggunakan ketiga cara itu di kamera yang Anda miliki.
Cara matrix adalah mengukur cahaya secara rata-rata dari bidang yang dipotret. Cara center weight adalah mengukur cahaya cuma di sekitar 30 persen bidang tengah bagian yang akan dipotret, sementara cara spot adalah mengukur cahaya pada sebuah titik kecil tertentu di bidang yang akan dipotret.
Setelah mengukur, kamera akan memberi tahu diafragma dan kecepatan rana berapa agar bagian yang diukur akan punya ”kepekatan” sekitar gray 18 persen. Seberapa pekat gray 18 persen, bisa Anda lihat di halaman ini.
Maka, coba Anda ukur pencahayaan sebuah kemeja hitam, lalu ukur pencahayaan sebuah kemeja putih. Hasilnya beda jauh bukan? Padahal, dengan sumber cahaya yang sama, seharusnya hasil pengukuran keduanya sama. Kesalahan pengukuran pada dua baju kemeja ini akibat kesalahan metode pengukurannya. Kemeja hitam akan dijadikan gray 18 persen oleh kameranya sehingga akan diminta kecepatan rana yang lambat. Sebaliknya, kemeja putih yang akan dijadikan gray 18 persen tentu menghasilkan kecepatan rana yang sangat tinggi bukan? Cobalah Anda potret kemeja hitam dengan cara biasa, maka hasilnya kemeja abu-abu. Juga baju putih yang Anda potret dengan cara biasa, menghasilkan kemeja yang agak abu-abu.
Seperti foto A yang banyak bagian hitamnya, sebaiknya Anda mengukur dengan spot ke bagian yang kira-kira kepekatannya seperti gray 18 persen. Kalau Anda memakai metode matrix, pengukuran Anda harus dikompensasi agar hitam terekam hitam. Butuh pengalaman beberapa kali untuk mengetahui karakter kamera Anda. Beda kamera beda karakter. Cobalah memotret pemandangan yang banyak hitamnya. Lalu buatkan kompensasi pencahayaan (memakai tombol bergambar tanda +/-, atau plus garis miring minus) minus satu sampai tiga stop. Perhatikan, berapa stop kamera Anda harus dikoreksi untuk keadaan tertentu.
Secara umum, metode spot tidak praktis untuk memotret cepat. Sebaliknya, metode matrix relatif paling aman untuk memotret secara umum asal Anda selalu siap dengan kompensasi.
Foto B relatif tidak butuh kompensasi karena kepekatan rata-ratanya sudah mendekati gray 18 persen. Kalau Anda ingin biru yang lebih pekat, bolehlah dikompensasi minus setengah atau satu stop.
Foto C adalah foto panggung yang latar belakangnya hitam. Memotret keadaan ini, mirip dengan foto A. Kompensasi pemotretan Anda dengan minus. Berapa minusnya? Banyak-banyaklah berlatih, dan hasil latihan ini diingat-ingat dengan baik. Arbain Rambey















Kirim Komentar Anda